Notulensi Muslimah Online Talks pemudi PUI_Sesi 3
“Menikah Tak Seindah Pelaminan”
Pemateri : Ferry Maulianti, S.Sos (Ketua Departemen Kajian Pemudi PUI)
Bismillahirrahmaanirrahiim...
Assalamu’alaykum ukhti fillah nan sholehah.
Alhamdulillah ... setelah sekian purnama, sesi 3
ini kita laksanakan juga.
Mohon maaf, karena ada satu dan lain hal yang
membuat materi ini tertunda cukup lama.
Btw, moderator kita tersayang ... Teh Yayuk sudah
tambah status baru loh.
Alhamdulillah beliau sudah menjadi seorang Ibu,
kita doakan bersama semoga Allah mampukan beliau menjadi ibu yang mencetak
generasi terbaik bagi Ummat, bangsa dan negara. aamiin
Kembali ke tema kita kali ini, “Menikah Tak
Seindah Pelaminan”.
Saya akan awali diskusi kita dengan 1
pertanyaan.
Apa sih yang teman teman harapkan dari sebuah
pernikahan? Or ... dari calon suami atau dari suami bagi yang sudah menikah?
Saya beri kesempatan 5 orang deh untuk menjawab.
Silahkan ...
Terimakasih yang sudah menjawab.
Harapan2 itu biasanya menentukan kriteria calon
suami yang dicari, iya kan? Sayangnya, manusia ga ada yang sempurna sist...
selalu ada kekurangan dibalik kelebihan, begitupun sebaliknya.
Tentang kriteria calon sudah kita bahas di sesi
pertama yaaa. Bagi yang tertinggal materinya bisa minta linknya nanti ke Teh
admin.hehe
Saya simpan dulu jawaban dari teman2, in syaa
Allah akan kita bahas nanti.
Nah, sekarang kita masuk pada pembahasan Pasca
Nikah. Peserta yang sudah menikah...bolehlah nanti senyum2 sendiri depan
handphone karena nostalgia masa unyu2 jadi penganten balu.wkwkwk
PERINGATAN untuk yang belum menikah, siapkan
hati..jaga rasa...jaga fikir...jaga muka jangan sampai merah merona.hihi..
Cek kanan kiri, pastikan aman. Ngga ada yang
bingung nanti saat melihat antunna tiba2 berubah ekspresi. ;D
Ok, are u ready girls?
Setelah seharian bersanding berdua bak Raja dan
Ratu di pelaminan, satu per satu teman kerabat bahkan mantan bergantian
mengucapkan selamat teriring do’a. Kini tamu2 beranjak pergi, tersisa kursi2
berjejal menumpuk, di hadapannya tampak pelaminan berhias bunga masih tampak
anggun. Saat mentari semakin masuk ke peraduannya, hening menyelimuti ... dua
sejoli duduk berdampingan di atas ranjang nan cantik berkelambu warna kesukaan.
Ada debar yang tak terelakkan, kekikukan dan
entah ...
Ayooo siapa yang ikut berdebar kencang??? ;D
serasa film horor malah... hahaaa
Yups, yang pertama akan saya sampaikan adalah
tentang malam penuh debaran itu, Malam Zafaf.
Apa seh malam zafaf itu? Ustadz Mohammad Fauzil ‘Adhim
dalam bukunya, “Kado Pernikahan untuk Istriku”, memberikan pengertian malam
zafaf adalah malam ketika pertama kali mereka (sepasang pengantin) bermalam
bersama.
Jujur ya teman2, saya sempat shock dengan
antusias peserta yang masuk ke grup, mengamati usia teman2 yang lahir di tahun
2000an terutama. Ini seusia dengan adik saya, jadi auto bayangin di usia
sekarang adik saya udah ikut diskusi sedalem ini tentang pernikahan. OMG.
So, mohon maaf untuk teman2 yang merasa belum
mendekati pada pernikahan (bahkan ta’aruf saja belum berencana) sebaiknya tidak
ikut dalam bahasan kali ini. Admin akan pandu untuk masuk ke grup lain dan kita
akan diskusi tentang bahasan yang kamu banget in syaa Allah.
Saya beri kesempatan kepada teman-teman yang mau
hijrah grup ...
Baik, kita lanjut ya teman2.
Terkait dengan Malam zafaf, saya akan mulai dari
persiapan apa saja yang perlu dilakukan seorang mempelai wanita dalam
menyambutnya. Saya kutip dari buku ust. Salim A Fillah, “Bahagianya Merayakan
Cinta”.
1.
Memperhatikan kebersihan gigi dan mulut
Aisyah r.a. pernah ditanya, “Pekerjaan apa yang
mula-mula dilakukan Rasulullah saw saat memasuki rumahnya?” Ia menjawab,
“Siwak!” (HR. Muslim)
Masih ingat kisah sebelum kematian Rasulullah?
Bahkan dalam kondisi sakitnya pun dan menjelang wafat beliau masih bersiwak.
Subhanallah... ini menandakan betapa beliau sangat memperhatikan kebersihan
gigi dan mulut.
Manfaat siwak dapat teman2 googling ya. Sekarang
sudah banyak pasta gigi yang menjadikan siwak sebagai bahan utama, tentu karena
manfaatnya yang luar biasa.
Menggosok gigi sudah menjadi SOP wajib sebelum
tidur, hingga menjadi kampanye tersendiri pada iklan2 produk pasta gigi.
Nah, jika pada malam2 biasa saja kebersihan gigi
dan mulut menjadi penting, apalagi di malam istimewa. Malam pertama berduaan
dalam kamar dengan orang asing yang berubah status sebagai suami.
Haruman mewangi
Rasulullah saw bersabda, “Yang sangat aku
cintai dari duniamu, adalah isteri dan haruman. Dan dijadikanlah shalat sebagai
penyejuk mata.” (HR Ahmad, An Nasa’i dan Al Baihaqi)
Jadi ingat, di pekan terakhir sebelum akad, saya
yang waktu itu tidak diizinkan bepergian (sebelumnya masih aktif di kegiatan
kampus dan sering ke luar rumah) nekad “kabur” untuk membeli parfum.
Sebenarnya ga bener2 kabur, Cuma memang sedikit
memanfaatkan kesempatan. Hari itu, jadwal saya ke bidan di puskesmas untuk
suntik TT. Saya berangkat sendiri dengan berjalan kaki ke puskesmas yang letaknya
tidak begitu jauh dari rumah, dari sana saya naik angkot ke toko parfum. Jadi
seperti kata pepatah, sekali merangkuh dayung 2 3 pulau terlampaui.
Nanti setelah menikah, baiknya ajak suami ke
toko parfum dan beli parfum bareng. Minta suami memilihkan wangi yang dia suka,
begitupun kita memilihkan wangi yang kita suka untuk suami. Harumlah ... sesuai
wangi yang pasangan kita suka. Untuk apa? Tentu saja untuk menambah gairah.
Ustadz Mohammad Fauzil ‘Adhim, menyampaikan
dalam bukunya, haruman ini terutama dipakai di daerah lipatan2, yaitu lipatan
telinga, lipatan jari jemari, maatif (daerah antara leher dan geraham),
kening, lipatan payudara, serta kemaluan.
Untuk daerah kemaluan jika ragu, bisa juga
digunakan di sekitar selangkangan saja, in syaa Allah cukup.
Membereskan 5 perkara fitrah
“Lima hal termasuk perkara fitrah; istihdaad
(mencukur bulu di sekitar farj/kemaluan), khitan, memangkas kumis, mencabuti
bulu ketiak, dan memotong kuku.” (HR. Al Jama’ah)
Di kalangan bangsa Arab beredar asumsi,bahwa
syahwat berbanding terbalik dengan rambut kemaluan. Semakin dipendekkan,
sensitivitas syahwati, in syaa Allah meningkat. Ada yang menisbatkan pendapat
ini pada ‘Ali r.a. Semoga benar, wallahu ‘Alaam ...
Begitu USA menuliskan dalam bukunya.
Mengenai memotong kuku, terutama bagi wanita
menjadi penting, karena ketika berjima’ dan akan mencapai orgasme biasanya
wanita refleks mencakar bagian tubuh suami.
Berhias
Akan lebih baik jika sebelum akad (pasca
khitbah) menanyakan kepada calon suami, berhias seperti apa yang ia sukai dari
istrinya kelak. Apakah senang dengan full make up atau justru lebih tergoda
pada wajah natural. Ini memudahkan dalam menentukan bagaimana harus berhias
saat malam zafaf. Pakailah pakaian yang tidak menyulitkan suami
saat berjima’, karena dapat mengurangi gairahnya.
Salam, Do’a dan Sentuhan pertama
Suami mengucapkan salam ketika memasuki kamar,
sebagai do’a kepada pasangan. Istri, alangkah baiknya sudah “merapikan” kamar
sebelum suami masuk. Memberi wewangian di sekitar ranjang (bisa dengan
mengoleskan parfum di bawah bantal dan sprey), mensterilkan kasur dari tumpukan
kado dll. Mengenai do’a, sunnahnya diucapkan oleh suami
saat memandang istri dan mencium ubun2nya.
Shalat berjama’ah berdua
Suatu hari datang seseorang bernama Abu Huraiz
menemui ‘Abdullah ibn Mas’ud r.a. Ia berkata, “Sesungguhnya aku baru saja
menikahi seorang gadis. Aku takut sekali kalau-kalau dia membenciku.”
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya rasa
kasih itu dari Allah sedang kebencian itu dari syaithan di mana ia berkeinginan
untuk membencikan kepada kalian apa yang telah Allah halalkan bagi kalian. Maka
apabila istrimu datang kepadamu, maka perintahkanlah ia shalat di belakangmu
dua raka’at dan berdoa’lah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah). Untuk do’anya silahkan lihat versi lengkapnya di
buku beliau.
Berbincang sembari menikmati cemilan yang
mengakrabkan
Ini adalah momen
yang benar2 harus dimanfaatkan. Sebagaimana Zainab binti Jarir yang bertanya
pada suaminya di malam zafaf tentang sesiapa tamu yang suaminya sukai dan siapa
yang tidak disukainya, serta pembicaraan ringan namun berbobot lainnya.
Bicarakan tentang
visi rumah tangga yang antunna dan suami inginkan, sebagai pijakan awal dalam
mengarungi bahtera rumah tangga. Tentunya ini berbeda dengan visi yang
tercantum dalam CV Ta’aruf, ada pendalaman bahasan yang mesti diperkuat.
Mengenai Malam Zafaf, saya tidak akan bahas
karena akan lebih vulgar dan sepertinya waktu kita tidak cukup. Sebagai
gantinya, silahkan teman2 yang sudah menjelang akad belajar dari buku2 ataupun
artikel2 di internet yang bertebaran. In syaa Allah mudah.
Adab-adab ketika berjima’ juga penting, wajib
untuk diketahui. Seperti berdo’a, suami tidak tergesa2 dan istri membuang rasa
malu, mubasyarah (foreplay), berwudhu jika hendak mengulang, mandi jinabah,
dll.
Saya pun tidak akan membahas mengenai itu.
Sampai di sini apakah ada yang ingin ditanyakan?
Lanjut yaa...
Masuk ke dalam tema kita “Menikah Tak Seindah
Pelaminan”.
Gambaran pernikahan – seperti yang pernah saya
sampaikan pada sesi 2- bukanlah seindah postingan IG para artis hijrah atau
selebgram yang menikah muda. Di balik itu, pernikahan seperti nano-nano
rasanya, “ramai”. Ada bahagia, gairah, semangat baru, keterkejutan, kekecewaan,
kesedihan, kegalauan, kebingungan, bahkan mungkin juga penyesalan.
Ada konsekuensi dalam suatu pernikahan, terutama
bagi kita kaum akhwat.
Segala aktifitas yang dilakukan sebelum menikah,
akan mengalami perubahan pasca menikah. Ada kebebasan yang terkurangi, ada
prioritas diri yang harus diduakan, ada mimpi yang mungkin mesti tertunda.
Namun, ada mimpi baru yang dituliskan, ada kehalalan yang direguk, ada calon
ayah dari anak2 kita kelak yang menemani hari2.
S0 ...
Sudah siapkah ketika ternyata pria yang kita
harapkan nyatanya mengecewakan?
Sudah siapkah saat cinderella berubah menjadi
upik abu?
Sudah siapkah saat berat badan harus bertambah
saat hamil kelak?
Siapkah menghadapi tahun demi tahun yang tak
mudah dalam pernikahan?
Wah... jangan sampai pertanyaan2 ini berputaran
di otak hingga membuat hati ragu.
Sist... inget ga, dulu waktu memutuskan kuliah
di kampus A dengan jurusan B atau bekerja di tempat C ekspektasi apa yang
terfikir?
Lantas, setelah di jalani ... apa selalu
berjalan sesuai ekspektasi? Ga selalu kan?
Pernikahan pun begitu.
5-7 tahun usia pernikahan adalah masa2 yang
sulit, masa yang berat untuk berta’aruf dengan pasangan kita. Baru menikah
sudah ramai orang bertanya, “dah ngisi belum?”. Setelah hamil dan punya anak,
pertanyaan berubah, “kapan nambah anak?”
Saat seorang wanita hamil maka perubahan hormon
berpengaruh pada bentuk fisiknya. Di tahun2 ini akan disibukkan dengan
kehadiran mujahid/ah cilik, hal ini membuat banyak wanita menjadi abai pada
penampilan dirinya. Anak2 dimandikan wangi, dipakaikan pakaian lucu nan
menggemaskan ...berbanding terbalik dengan sang ibu yang berdaster dengan
rambut terikat wajah kusam.
Segala mimpi yang dulu dituliskan, melanjutkan
pendidikan, berkarir, dll ... bagi sebagian wanita setelah menikah, hanya
menguap tak berwujud. Hilang bersama hari2 hectic yang tak henti menjejali
keseharian seorang istri sekaligus ibu.
Sebagian lagi, menikmati masa2 ini. Asyik
mencoba berbagai resep makanan dan cemilan, bermain dengan anak2, melayani
suami. Seolah mimpi yang memang menjadi nyata.
Kedua kondisi tersebut, bisa jadi terjadi pada
antunna. Maka kembali saya ingatkan, komunikasikan sejak awal, bahkan
sebelumnya, saat proses ta’aruf. Jika diperlukan buatlah semacam MOU dengan
calon suami, tentang target dan mimpi yang ingin dicapai setelah menikah.
Bagi yang sudah terlanjur menikah, bagaimana?
Tak ada salahnya mengkomunikasikan kembali. Mendirikan kembali pondasi yang
belum tegak, agar bangunan mahligai rumah tangga ini tidak ambruk begitu saja.
Mengenai bagaimana komunikasi suami istri, saran
saya silahkan tonton video dr.Aisyah Dahlan. Nonton berdua bareng suami, jadi
masing2 bs saling belajar dan memahami.
Ustadz Cahyadi Takariawan pernah menyampaikan,
bahwa banyak pasangan suami istri yang bercerai bukan disebabkan karena sudah
tidak cinta. Justru banyak dari mereka yang masih sama2 cinta. Perceraian
banyak terjadi disebabkan ketidaktahuan untuk membahasakan bahasa cinta kepada
pasangan, kesalahan dalam berkomunikasi menyampaikan maksud hati.
Lalu bagaimana solusinya saat menikah tak
seindah pelaminan?
Beristighfar, ingat kembali bagaimana dulu
pernikahan itu terjadi. Bisa jadi, masalah2 yang di hadapi dalam pernikahan
sebagai penghapus dosa2 yang pernah dilakukan selama proses menuju pernikahan.
Jika proses yang dilakukan sudah baik, sesuai
syariat Islam, maka tetaplah beristighfar. Jangan2 ada takabur yang terselip di
hati, merasa diri sudah menunaikan sesuai sunnah, merasa lebih baik dari teman2
yang melalui proses pernikahan tak sesuai syariat. Ahhh...dasar hati.
Selanjutnya, terus belajar dan jangan bosan
berta’aruf dengan suami. Butuh waktu seumur hidup untuk mengenal pasangan hidup
kita. Ya, butuh ta’aruf seumur hidup.
2 kuncinya, keterbukaan (jujur) dan komunikasi.

0 Response to "Notulensi Muslimah Online Talks pemudi PUI_Sesi 3 "
Post a Comment