Notulensi Muslimah Online Talks Pemudi PUI_Sesi 1
Bismillahirrahmaanirrahiim ...
Assalamu’alaykum sahabat sholihah J
Sudah siap menikmati ‘Pesona Nikah
Muda’? :D
Yuu tegarkan posisi bagi para
singlelilah, untuk sedia berdiskusi santai malam ini. J
Tentang alasan kenapa sih kaum hawa
di usia yang so cute ini pengen nikah muda, lantas ekspektasi seperti apa yang
terbayang saat kelak menyandang status baru, “MENIKAH” di KTP. hehe
Nah ini bisa beragam yaa jawabannya.
Coba deh, apa yang ada dalam benak sahabat sholihah saat mendengar kata
pernikahan?
Couple, pelaminan, pesta, hidup
berdua? Atau ada yang sudah sampai terbayang memiliki keturunan, serta deretan
planning hidup berumah tangga lainnya?
Cek pengertian dulu yuuu di kamus. Menurut
KBBI, NIKAH adalah ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan
ketentuan hukum dan ajaran agama.
Perintah untuk menikah disebutkan
dalam Al Qur’an surat An-Nur ayat 32:
”Dan nikahkanlah orang-orang yang
masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari
hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah
akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas
(pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
Merujuk pada dalil di atas, tentu
jelas Menikah adalah perintah Allah yang termaktub dalam Al Qur’an, bahkan
Allah SWT menjamin memberikan kecukupan bagi mereka yang kekurangan (miskin).
Maasya Allah.
Jika diperhatikan ada 2 kelompok
besar dari kalangan remaja.
Kelompok pertama adalah mereka yang
masih asyik ‘bermain’ di masa Puber, menggemari K-Popers, Kongkow bareng temen,
cuci mata mulai dari melirik benda sampai makhluk bernyawa bernama kaum adam.
Berawal dari saling lirik, pedekate, temen curhat atau nongkrong sampai
akhirnya timbul kenyamanan kekaguman dan klepek-klepek berujung PACARAN.
Cung yang masuk kelompok pertama
ini! :D
Fenomena kedua, adalah kelompok yang
terus bertambah seiring syiar ‘SAY NO TO PACARAN’. Yups, mereka ini kaum muda
yang enggan untuk pacaran. Menjaga diri dari berdekatan dengan lawan jenis demi
menanti pangeran impian datang melamar secara romantis.
Saya perhatikan kelompok kedua ini
mulai mewabah saat perfilman nasional mulai dihiasi dengan film-film religi
bergenre romantis. Sebut saja Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, belum
lagi sinetron-sinetron yang bermunculan dengan artis muda yang lagi-lagi
mengisahkan kisah cinta dalam balutan keislaman.
Buku-buku remaja bergenre islam pun
banyak yang kemudian membahas tema ta’aruf, hubungan cewek dan cowok, seperti
“Ku Pinang Kau dengan Basmallah”, “Di atas Sajadah Cinta”, “Udah Putusin Aja”.
Kenal kah judul buku-buku tersebut? Itu yang booming waktu jaman saya dulu yes.
Hehe ...
Sekarang tentu judulnya semakin
millenial mengikuti target market yaitu kalian para kaum milenial. Kalo saya
kaum milenium keknya. Wkwk
Okey, kembali pada tema kita ...
“Pesona Nikah Muda”. Kembali pada pertanyaan saya di atas, apa sih alasan
kalian ingin menikah? Silahkan boleh dijawab dalam hati yaaa :D.
Berdasarkan pengamatan, sharing
dengan teman-teman dan bertanya pada mereka yang belum dan sudah menikah maka
ada beberapa jawaban yang mungkin mewakili jawaban kalian.
- Ga mau pacaran. Banyak remaja yang menghindari berpacaran dan kemudian menjaga diri dengan berharap ikhwan impian datang mengajak ta’aruf, khitbah kemudian menikah. Prinsip untuk tidak berpacaran ini tentu hal yang sangat positif dan sesuai dengan ajaran Islam, tetapi juga menimbulkan kegalauan pada kalangan akhwat singlelillah yang menahan diri akan kebutuhan biologis untuk diperhatikan oleh lawan jenis, yang jika kebutuhan ini tidak bisa disikapi dengan bijak maka akan timbul harapan-harapan tentang jodoh dan pernikahan. Sangat baik jika prinsip ini kemudian diikuti oleh perbaikan secara personal, bukan sekedar sibuk mencari dan mengintip calon jodoh tapi lupa mengilmui diri mengenai proses pra dan pasca pernikahan itu sendiri.
- Menggenapkan setengah dien. Biasanya alasan ini diungkapkan oleh mereka yang sudah mempelajari tentang pernikahan secara islam, aturan hubungan pergaulan antara lelaki dan perempuan yang juga diatur oleh agama, serta iming-iming pahala dari kebersamaan yang terbingkai dalam ikatan pernikahan. Alasan yang syar’i banget ya?! Asal tidak lupa untuk menunaikan setengah dien yang lainnya, ibadah-ibadah wajib dan sunnah yang masih banyak perlu dipelajari dan dilakukan. Pernikahan menjadi penyempurna dien jika diimbangi dengan terlaksananya setengah bagian dien yang lainnya.
- Pengaruh lingkungan atau teman dan kerabat. Ada juga yang mengungkapkan keinginannya untuk segera menikah, karena melihat teman seangkatannya banyak yang sudah menikah atau teman dekatnya sudah bersanding di pelaminan. Saat stalking IG melihat pasangan yang sudah menikah muda tampak mesra dan bahagia, kemana-mana ada ojeg cinta yang setia mengantar, mau beli ini itu ada dompet suami yang sedia membayar, mau kondangan ada pasangan yang bisa diajak pakai gamis sarimbit atau couple. Hahaaa..Alvin putra almarhum Ustadz Arifin Ilham pernah menyampaikan dalam salah satu acara, “Apa yang nampak di media sosial itu hanya hal yang indah-indahnya saja, sedangkan banyak hal-hal yang sulit yang tidak terlihat dalam kenyataannya.”
Ya,
apa yang terlihat di media sosial di mana foto artis atau tokoh muda dengan
pasangannya tampak mesra dan bahagia, itu hanya apa yang ingin mereka
perlihatkan pada publik. Di luar itu, tentu pernikahan mereka sebagaimana
pernikahan pada umumnya yang juga mengalami pasang surut rindu, naik turun
emosi, rasa cemburu kesal dan sebagainya.
Maka,
yuu cek lagi hati kita, jangan-jangan keinginan menikah itu hadir karena rasa
iri pada mereka yang sudah sah dan halal bermesraan. Bebas mengupload foto,
bergandengan, bermesraan di hadap khalayak dunia maya maupun nyata.
Eittsss
... menikah bukan berarti bebas mengumbar kemesraan di depan publik loh ya. Ini
tidak akan saya bahas, boleh nanti lanjut diskusi jika teman-teman ada yang mau
bertanya.
U. Dorongan terkuat bagi seorang wanita untuk menikah adalah faktor U, Udah ga kuat mendengar pertanyaan keluarga, teman, sahabat, orang tua “Kapan Nikah?” J. Pertanyaan pendek yang berefek panjang. L Yups, karena ada juga mereka yang di usia sudah tidak muda lagi namun tetep enjoy menanti jodoh, sibuk memantaskan diri karena mampu menjaga hati dari rasa ‘ga kuat’ tadi. Faktor U ini cenderung mendesak wanita untuk segera menikah, siapapun prianya. Terkadang disertai penyesalan ketika mengingat semasa usia mudanya terlalu cuek terhadap pria yang datang meminang.
U. Dorongan terkuat bagi seorang wanita untuk menikah adalah faktor U, Udah ga kuat mendengar pertanyaan keluarga, teman, sahabat, orang tua “Kapan Nikah?” J. Pertanyaan pendek yang berefek panjang. L Yups, karena ada juga mereka yang di usia sudah tidak muda lagi namun tetep enjoy menanti jodoh, sibuk memantaskan diri karena mampu menjaga hati dari rasa ‘ga kuat’ tadi. Faktor U ini cenderung mendesak wanita untuk segera menikah, siapapun prianya. Terkadang disertai penyesalan ketika mengingat semasa usia mudanya terlalu cuek terhadap pria yang datang meminang.
Ini hanya sedikit alasan di antara
banyak alasan yang mendorong timbulnya keinginan menikah, terutama di usia
muda. Saat sesi diskusi nanti, teman-teman boleh mengemukakan alasan
masing-masing ya ;).
So, alasan ini erat kaitannya dengan
niat. Alasan lah yang mendorong timbulnya niat, nah niat ini yang harus
diluruskan.
Menikahlah karena Allah bukan karena
Lelah.
Menikahlah karena kau butuh bukan
sekedar akibat cemburu bergemuruh.
Ustadz Salim A. Fillah dalam seminar
pranikah pernah menyampaikan “Menikah bukan untuk bahagia”. Untuk kamu
yang berharap menikah dapat memberi kebahagiaan di hidupmu, maka percayalah
menikah tak selalu bahagia, sebagaimana hidup ada banyak masalah yang akan
selalu hadir dan harus kamu hadapi. Ada 2 kepala yang berbeda cara berfikir dan
bersikap dalam menyelesaikan masalah, akan ada saja konflik. Maka sudah siapkah
kamu menghadapinya kelak???
Menikah Tak Seindah Pelaminan.
Ini bocoran tema untuk sesi ke 3 ya, jadi nggak akan saya bahas sekarang. Hehee
...
Tak apa terpesona pada mereka yang
menikah di usia muda dan tampak bahagia, tapi perlu juga mengilmuinya. Karena
pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan seumur hidup akan dijalani, maka
menjadi penting untuk memilih pasangan yang akan membersamai selama usia
pernikahan.
Bahasan selanjutnya pada diskusi
perdana kita malam ini ... Gimana sih tips memilih pasangan yang baik?
Ini seh udah lama nian Rasulullah
saw sampaikan, beliau mengatakan, “pilihlah ia yang indah parasnya, baik
hartanya, bagus keturunannya, serta baik agamanya. Namun, pilihlah yang paling
baik agamanya.” Kalau orang tua kita bilang, bibit bobot bebet.
Rupanya istilah tersebut berdasar sebagaimana yang Rasulullah saw sampaikan,
dengan agama yang paling utama.
Dikisahkan dalam H.R. Muslim, ada
seorang sahabat Nabi saw yang secara tampang –maaf- jelek bernama Julaibib, digambarkan fisiknya
tidak menarik, postur tubuhnya pendek kecil, kulitnya hitam legam,
penampilannya buruk dengan wajah yang lusuh. Namun beliau sangat rajin
beribadah, selalu terdepan di medan jihad.
Suatu hari Rasulullah bertanya
kepadanya, “Apakah kau ingin menikah?” tanya Rasul. “Tentu saja ingin
Yaa Rasul, tapi wanita mana yang ingin menikah dengan pria sepertiku? Tidak ada
orang tua yang mau menikahkan anak gadisnya dengan pria sepertiku”
jawabnya.
Nabi saw pun mengajak sahabatnya ini
untuk menemui seseorang, ia adalah pemimpin kaum anshor. Rasulullah kemudian
berkata kepadanya. “Aku ingin meminang putrimu”, Rasulullah berkata.
Betapa senang ayah sang gadis mengira putrinya dipinang oleh Rasulullah untuk
menjadi istri beliau. Namun kemudian Rasul menyampaikan bahwa ia meminang putri
pemimpin anshor itu untuk sahabatnya, Julaibib. Melihat wajah sahabat Rasul
yang jelek itu, sang Ayah menjadi ragu dan galau. Ia pun bertanya kepada
putrinya, dan benar saja sang putri menolak. Akan tetapi saat ia tahu
Rasulullah saw yang meminangnya, maka ia pun menerima pinangan sahabat Rasul
saw tersebut. Ia tak ada pilihan lain, teringat firman Allah dalam surat Al
Ahzab ayat 36:
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki
yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang
urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh,
dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.”
Ia yakin Rasul saw menjamin
kesholehan sahabatnya ini. Pernikahan pun terlaksana.
Maasya Allah ... betapa agama
mengalahkan keindahan fisik dan dunia.
Rasulullah pun pernah menyampaikan, “apabila
datang seorang pria sholeh melamar seorang wanita maka tidak ada alasan bagi
wanita tersebut untuk menolaknya, jika tidak maka ia akan terkena fitnah
dunia.”
Betapa pentingnya faktor agama ini
dalam memilih pasangan hidup. Apalagi kalau sudah sholeh, ganteng, tajir pula
:D.
Dalam kisah lain diceritakan, suatu
hari datanglah seorang wanita menghadap kepada Rasulullah saw. “Ya Rasul,
aku ingin bercerai dari suamiku”, ungkap sang wanita tegas. “Mengapa kau
ingin bercerai? Bukankah ia pria yang sholeh?” tanya Rasul saw. “Kau
benar wahai Rasulullah, suamiku adalah pria yang sholeh, tetapi aku tak kuasa
melihat wajahnya yang jelek. Sehingga
aku berfikir jika tetap hidup bersamanya aku khawatir akan menyakiti
perasaannya, maka aku putuskan untuk bercerai dengannya.”
Subhanallah, dalam dua kisah yang
berbeda terdapat dua pelajaran. Pertama, agama harus diutamakan dalam memilih
pasangan. Kedua, wajah yang menyenangkan juga perlu menjadi pertimbangan.
Ganteng dan cantik itu relatif, sedangkan wajah yang menyenangkan tak selalu
bermakna ganteng dan cantik bukan. Pernah liat kan ada cowo ganteng tapi
mukanya ngeselin, nah ini ga masuk kriteria wajah yang menyenangkan ya. :D
Selain empat hal tadi, sedikit saya
tambahkan. Carilah pria yang sayang pada ibunya, karena seorang pria yang
sayang n menghormati ibundanya, in syaa Allah dia juga akan sayang dan
menghormati istrinya. Gimana cara mengetahui karakter calon pasangan kita???
Ini nanti kita bahas di sesi 2 tentang ta’aruf dan prosesnya ya. ;)
Menikahlah karena Allah dengan
seseorang yang dengannya kau dan dia berproses menjadi pribadi yang selalu
menuju kebaikan dan menebarkannya untuk menjadi manfaat pada orang-orang di
sekitar kalian kelak.
Tapi neh klo boleh jujur, saya
secara pribadi agak miris dengan fenomena menikah muda ini. Why? Karena di usia
18-22 tahun adalah usia produktif, usia menyemai manfaat, mengokohkan pijakan akan
karakter diri. Usia yang masih so cute so imut untuk membahagiakan diri dan
orang tua. Kelak, saat kamu menikah ... ridho mu ada pada suami. Tanggung jawab
orang tua berpindah kepada pria yang mengucap ijab kabul di hari akad
pernikahan. So, pelajari dulu tentang pernikahan itu apa dan bagaimana, jangan
terburu memilih jalan menikah muda.
Lantas gimana neh Teh, cara menjaga
hati saat menanti?
Pertama, sebagaimana anjuran
Rasulullah saw kepada sahabat ... berpuasalah. Perbanyak shaum untuk menjaga
hawa nafsu negatif yang bisa hadir kapan saja.
Kedua, Sibukkan diri dengan kegiatan
yang bermanfaat dalam upaya menyiapkan diri sebagai calon istri sekaligus ibu.
Misalnya, dengan ikut kursus Thibbun Nabawi, belajar Tahsin, kursus jahit,
belajar memasak, dan lain-lain.
Ketiga, belajar ilmu berumah tangga
dan parenting. Ini penting sista, yang kamu inginkan pastinya adalah pernikahan
seumur hidup bukan? Sehidup sesyurga. So, butuh ilmu untuk menjalaninya,
membersamai ia yang menjadi imammu, mendidik anak-anak yang kelak Allah amanahkan.
Selanjutnya yang terpenting adalah
PeDeKaTe sama Allah, pepet terus Allah ... karena hanya dengan bersamanya hati
menjadi tenang. Bukankah di hadapan Allah semua resah gelisah masalah musnah
terbenam oleh kebesaran-Nya. Kala hati galau, adukan pada-Nya, menangis
sepuasnya.
Yang terakhir, dahulukan pandangan
Allah daripada pandangan makhluk. Ketika semakin dekat kepada Sang Pemilik
Hati, apapun yang hatimu rasakan, fikirmu inginkan, jasadmu lakukan semua
terarah pada-Nya.
“Kalo gue gini baik ga ya, gimana
klo Allah cemburu? Boleh ga ya? Allah marah ga ya?”
Akhwat fillah ... sahabat sholihah,
seorang wanita yang menikah akan meninggalkan orang tuanya, keluarganya,
kehidupan pribadinya, kesenangan pribadinya, bahkan mungkin menunda mimpinya
untuk mengabdi kepada pria asing yang Allah takdirkan di hidupnya. Ia menjadi
makmum di belakang suaminya, menjadi pendamping di setiap langkah kehidupan
berumah tangga. Sudah siapkah mengambil peran ini? Siapkah berkorban untuk
menyambut kehidupan yang sebenarnya?
Sekian dulu ya materi dari saya,
selanjutnya saya serahkan kembali micnya kepada moderator. J
Sebagai penutup ...
Jika merasa siap untuk
menikah
Maka menikahlah secara
elegan
Bukan rutin memasang
status galau menanti pasangan
Atau berganti foto profile
nan memukau
Jadilah high quality
jomblo yang terhormat
Menjaga pandangan pria
dengan menutup aurat
Tak mudah dipandangi
sembarang mata
Tak murah mengumbar
pesona
Sibukkan dalam perbaikan
diri
Sembari membalut pesona
diri di hadap Illahi
Menikah tak hanya
penyatuan pria dan wanita
Tapi tentang pondasi
bangunan sebuah peradaban masa

0 Response to "Notulensi Muslimah Online Talks Pemudi PUI_Sesi 1"
Post a Comment